BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Perkembangan
kemandirian merupakan masalah penting sepanjang rentang kehidupan manusia.
Perkembangan kemandirian sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan fisik,
yang pada giliranya dapat memicu terjadinya perubahan emosional, perubahan
kognitif yang memberikan pemikiran logis tentang cara berfikir yang mendasari
tingkah laku, serta perubahan nilai dalam peran sosial melalui pengasuhan
orangtua dan aktivitas individu. Secara spesifik, masalah kemandirian menuntut
suatu kesiapan individu, baik kesiapan fisik maupun emosional untuk mengatur,
mengurus dan melakukan aktivitas atas tanggung jawabnya sendiri tanpa banyak
menggantungkan diri pada orang lain.
Dengan
pentingnya suatu kemandirian dalam setiap individu, maka harus adanya bimbingan
atau pengasuhan kemandirian dari orang tua dan guru untuk membantu individu
dalam melaksanakan tugas perkembanganya.
B. RUMUSAN
MASALAH
Dari latar balakang masalah
tersebut, dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut;
1. Apa
pengertian dari kemandirian?
2. Bagaimana
bentuk-bentuk kemandirian?
3. Adakah
tingkatan dan karakteristik kemandirian?
4. Seberapa
penting kemandirian bagi peserta didik?
5. Bagaimana
perkembangan kemandirian peserta didik dan impikasinya bagi pendidikan?
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Kemandirian
Istilah
“kemandirian” berasal dari kata dasar
“diri” yang dalam konsep Carl Rogers disebut dengan istilah self, kerena diri merupakan inti dari
kemandirian. Konsep yang sering digunakan atau berdekatan dengan kemandirian
adalah autonomy.
Menurut Chaplin (2002), otonomi adalah
kebebasan individu manusia untuk memilih, untuk menjadi kesatuan yang bisa
memerintah, menguasai dan menentukan dirinya sendiri. Sedangkan Seifert dan Hoffnung (1994) mendefinisikan otonomi atau kemandirian sebagai “the ability to govern and regulate one’s
own khoughts, feelings, and actions freely and responssibly while overcoming
feelings of shame and doubt.”
Dengan demikian
dapat dipahami bahwa kemandirian atau otonomi adalah kemampuan untuk
mengendalikan dan mengatur pikiran, perasaan dan tindakan sendiri secara bebas
serta berusaha sendiri untuk mengatasi perasaan-perasaan malu dan
keragu-raguan.
Erikson (dalam
Mongs, dkk, 1989), menyatakan kemandirian adalah usaha untuk melepaskan diri
dari orangtua dengan maksud untuk menemukan dirinya melalui proses mencari
identitas ego, yaitu merupakan
perkembangan ke arah individualitas yang mantap dan berdiri sendiri.
Kemandirian biasanya ditandai dengan kemampuan menentukan nasib sendiri,
kreatif dan inisiatif, mengatur tingkah laku, bertanggung jawab, mampu menahan
diri, membuat keputusan-keputusan sendiri, serta mampu mengatasi masalah tanpa
ada pengaruh dari orang lain.
Kemandirian
merupakan suatu sikap otonomi di mana peserta didik secara relatif bebas dari
pengaruh penilaian, pendapat dan keyakinan orang lain. Dengan otonomi tersebut,
peserta didik diharapkan akan lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kemandirian mengandung pengertian:
1. Suatu
kondisi di mana seseorang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebaikan
diri sendiri.
2. Mempu
mengambil keputusan den inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi.
3. Memiliki
kepercayaan diri dan melaksanakan tugas-tugasnya.
4. Bertanggung
jawab terhadap apa yang dilakukanya.
B. Bentuk
– Bentuk Kemandirian
Robert
Havighurst (1972) membedakan kemandirian atas empat bentuk kemandirian, yaitu:
1. Kemandirian
emosi, yaitu kemampuan mengkontrol emosi sendiri dan tidak tergantungnya
kebutuhan emosi pada orang lain.
2. Kemandirian
ekonomi, yaitu kemampuan mengatur ekonomi sendiri dan tidak tergantungnya
kebutuhan ekonomi pada orang lain.
3. Kemandirian
intektual, yaitu kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi.
4. Kemandirian
sosial, yaitu kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tdak
tergantung pada aksi orang lain.
Sementara,
Steiberg (1993) , membedakan karakteristik kemandirian atas tiga bentuk yaitu:
1. Kemandirian
emosional (emotional autonomy)
Kemandirian
yang menyatakan perubahan kedekatan hubungan emosional antar individu, seperti
hubungan emosional peserta didik dengan guru atau dengan orangtuanya.
2. Kemandirian
tingkah laku (behavioral autonomy)
Kemampuan
untuk membuat keputusan-keputusan tanpa tergantung pada orang lain dan
melakukanya secara bertanggung jawab.
3. Kemandirian
nilai (value autonomy)
Kemampuan
memaknai seperangkat prinsip tentang benar dan salah, tentang apa yang penting
dan apa yang tidak penting.
C. Tingkat
dan Karakteristik Kemandirian
Sebagai suatu
dimensi psikologi yang kompleks, kemandirian dalam perkembangannya memiliki
tingkatan-tingkatan. Perkembangan kemandirian seseorang berlangsung secara
bertahab sesuai dengan tingkat perkembangan kemandirian tersebut. Lovinger
(dalam Sunaryo Kartadinata, 1988), mengemukakan tingkat kemandirian dan
karakteristik, yaitu sebagai berikut:
1. Tingkat pertama, adalah
tingkat impulsif
Ciri-ciri:
a. Peduli
terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari interaksinya dengan
orang lain.
b. Mengikuti
aturan secara spontanistik dan hodonistik.
c. Berfikir
tidak logis dan tertegun pada cara berfikir tertentu (stereotype).
d. Cenderung
melihat kehidupan sebagai zero-sum games.
e. Cenderung
menyalahkan dan mencela orang lain serta lingkungannya.
2. Tingkat kedua, adalah
tingkat konformistik
Ciri-ciri:
a. Peduli
terhadap penampilan diri dan penerimaan sosial.
b. Cenderung
berfikir stereotype dan klise.
c. Peduli
akan konformitas terhadap aturan eksternal.
d. Bertindak
dengan motif yang dangkal untuk memperoleh pujian.
e. Menyamakan
diri dalam ekspresi emosi dan kurangnya introspeksi.
f. Perbedaan
kelompok didasarkan atas ciri-ciri eksternal.
g. Takut
tidak diterima kelompok.
h. Tidak
sensitif terhadap keindividualan.
i.
Merasa berdosa jika melanggar aturan.
3. Tingkat ketiga, adalah
tingkat sadar diri?
Ciri-ciri:
a. Mampu
berfikir alternatif.
b. Mampu
berharap dan berbagai kemungkinan dalam berbagai situasi.
c. Peduli
untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada.
d. Menekankan
pada pentingnya memecahkan masalah.
e. Memikirkan
cara hidup.
f.
Penyesuaian terhadap situasi dan
peranan.
4. Tingkat keempat, adalah
tingkat saksama (conscientions)
Ciri-ciri:
a. Berindak
atas dasar nilai-nilai internal.
b. Mampu
melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan.
c. Mampu
melihat keragaman emosi, motif, dan perspektif diri sendiri maupun orang lain.
d. Sadar
akan tanggung jawab.
e. Mampu
melakukan kritika dan penilaian diri.
f. Peduli
akan hubungan mutualistik.
g. Memiliki
tujuan jangka panjang.
h. Cenderung
melihat peristiwa dalam konteks sosial.
i.
Berfikir lebih kompleks dan atas dasar
pola analistik.
5. Tingkat kelima, adalah
tingkat individualistik
Ciri-ciri:
a. Peningkatan
kesadaran individualitas.
b. Kesadaran
akan konflik emosional antara kemandirian dan ketergantungan.
c. Menjadi
lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain.
d. Mengenal
eksistensi perbedaan individu.
e. Mampu
bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan.
f. Membedakan
kehidupan internal dengan kehidupan luar dirinya.
g. Mengenak
kompleksitas diri.
h. Peduli
akan perkembangan dan masalah-masalah sosial.
6. Tingkat keenam, adalah
ingkat mandiri
Ciri-ciri:
a. Memiliki
pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan.
b. Cenderung
bersikap realistik dan objektif terhadap diri sendiri dan orang lain.
c. Peduli
pada pemahaman abstrak, seperti keadilan sosial.
d. Mampu
mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan.
e. Toleran
terhadap ambiguitas.
f. Peduli
akan pemenuhan diri (self-fulfilment).
g. Ada
keberanian untuk menyelesaikan konflik internal.
h. Responssif
terhadap kemandirian orang lain.
i.
Sadar akan adanya saling ketergantunagn
dengan orang lain.
j.
Mampu mengekspresikan perasaan dengan
penuh keyakinan dan keceriaan.
D. Pentingnya
Kemandirian Bagi Peserta Didik.
Pentingnya
kemandirian bagi peserta didik, dapat dilihat dari situasi kompleksitas
kehidupan dewasa ini, yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi
kehidupan peserta didik. Dalam konteks proses belajar, terlihat adanya fenomena
peserta didik yang kurang mandiri dalam belajar, yang dapat menimbulkan
gangguan mental setelah memasuki pendidikan lanjutan, kebiasaan belajar yang
kurang baik (seperti tidak betah belajar lama atau belajar hanya menjelang
ujian, membolos, mencontek, dan memberi bocoran soal-soal ujian).
Fenomena di
atas, menuntut dunia pendidikan untk mengembangkan kemandirian pesera didik.
Sunaryo Kartadinata (1988) menyebutkan beberapa gejala yang berhubungan dengan
permasalahan kemandirian yang perlu mendapat perhatian dunia pendidikan, yaitu:
1. Ketergantungan
disiplin kepada kontrol luar dan buakn karena niat sendiri yang ikhlas.
Perilaku seperti ini akan mengarah pada perilaku formalistik, ritualistik dan
tidak konsisten, yang pada giliranya akan menghambat pembentukan etos kerja dan
etos kehidupan yang mapan sebagai salah satu ciri dari kualitas sumber daya dan
kemandirian manusia.
2. Sikap
tidak peduli terhadap lingkungan hidup. Manusia mandiri bukanlah manusia yang
lepas dari lingkungannya, melainkan bertrasnsenden terhadap lingkunagannya. Ketidak pedulian terhadap lingkungan hidup
merupakan gejala perilaku impulsif, yang menunjukkan bahwa kemandirian
masyarakan masih rendah.
3. Sikap
hidup konformitis tanpa pemahaman dan konformistik dengan mengorbankan prinsip.
Mitos bahwa segala sesuatunya bisa diatur yang berkembang di masyaraka
menunjukkan adanya ketidakjujuran dalam berfikir dan berindak serta kemandirian
masih rendah.
Gejala-gejala
tersebut merupakan bagian kendala utama dalm mempersiapkan individi-individu
yang mengarungi kehidupan masa mendatang yang semakin kompleks dan penuh
tantangan. Oleh sebab itu, perkembangan kemandirian peserta didik menuju ke
arah kesempurnaan menjadi sangat penting untuk dilakukan secara serius,
sistematis, dan terprogram.
E. Perkembangan
Kemandirian Peserta Didik dan Impikasinya Bagi Pendidikan
Kemandirian adalah kecakapan yang
berkembang sepanjang rentang kehidupan individu, yang sangat dipengaruhi oleh
faktor-faktor pengalaman dan pendidikan. Oleh sebab itu, pendidikan sekolah
perlu melakukan upaya-uaya pengembangan kemandirian peserta didik, diantaranya:
1. Mengembangkan
proses belajar mengajar yang demokratis, yang memungkinkan anak merasa
dihargai.
2. Mendorong
anak untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan dan dalam berbagai
kegiatan sekolah.
3. Memberi
kebebasan kepada anak untuk mengeksplorasi lingkunagan, mendrong rasa ingin
tahu peserta didik.
4. Penerimaan
positif tanpa syarat kelebihan dan kekurangan anak, tidak membeda-bedakan anak
yang satu dengan yang lain.
5. Menjalin
hubungan yang harmonis dan akrab dengaan anak.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kemandirian merupakan suatu sikap otonomi di mana
pesrta didik secara relatif bebas dari pengaruh penilaian, pendapat dan
keyakianan orang lain. Kemandirian muncul dan berfungsi ketika peserta didik
menemukan diri pada posisi yang menuntut suatu tingkat kepercayaan diri.
Menurut Steinberg (1993), kemandirian berbeda dengan tidak tergantung, karena
tidak tergantung merupakan bagian untuk memperoleh kemandirian.
B. Saran
Perkembangan kemandirian peserta didik sangat
berpengaruh pada proses peyikapan kehidupan yang sempurna. Maka dari itu
perkembangan kemandirian peserta didik menuju ke arah kesempurnaan menjadi
sangat penting untuk dilakukan secara serius, sistematis, dan terprogram baik
dari orangtua maupun guru.
DAFTAR
PUSTAKA
Desmita.
2009, Psikologi Perkembangan Peserta
Didik.Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA